Hadith Detail


Title NUMBER 35
Degrees SHAHIH
History MUSLIM NUMBER 2564
Keyword BE GOOD
Content
From Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, he said,

"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam said, 'Don't you envy each other, cheat each other (najasy), hate each other, gap each other. Don't some of you sell for the sale of others. Be you - servants of God - (which) in brotherhood. A Muslim is a brother to other Muslims; not do zalim (things to) him (another), abandon him, untrust him and humiliate him. The piety (takwa) was here - he (Prophet) pointed at his chest three times -. Suffice it to say that someone is bad if he insults his fellow Muslims. Every Muslim over other Muslims is forbidden their blood, wealth and honor.'"-
Explanation
(Sorry for no english translate bellow)

Penjelasan pada bagian frasa atau kalimat yang rentan misinterpretasi

"Janganlah kalian saling mendengki", Dengki atau iri, umumnya adalah dilarang. Boleh bagi dua: (1) Orang berharta yang menggunakan hartanya di jalan (yang diridhoi) Allah; dan (2) Orang berilmu yang menggunakan ilmunya di jalan (yang diridhoi) Allah . (Lihat Bukhari 73 & Muslim 816 "Tidak boleh hasad (ghibtoh)...").

Adapun contoh kasus yang mungkin lumrah kita temukan di dunia nyata adalah, orang yang menjadi penyebab hasad, namun keliru dalam memaknai sebab-sebab bolehnya hasad, dan kemudian mengatakan bahwa orang lain hasad lalu merasa benar sendiri. Semisal, orang yang dianugerahi kelebihan harta, kemudian dengan harta itu ia campurkan kefasikan dengan amal saleh, bermegah-megahan (QS. At-Takatsur [102] : 1-8) yang dicampur dengan infaq dan sedekah. Lantas orang lain bukan iri karena infaq sedekahnya (amal salehnya) namun karena ia bermegah-megahan. Sementara harta yang ia megah-megahkan itu sebenarnya adalah juga merupakan hak orang lain untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder maupun kebutuhan perkara agamanya. Maka penyebab hasad yang mengkalaim orang lain hasad dan dirinya orang saleh, bukanlah benar, tapi bodoh. Hendaklah kepada orang-orang bodoh, jika tak mengerti atau tidak pada waktu yang tepat untuk menanganinya, maka berpaling (QS. Al-A'raf [7] : 199) agar terhindar dari hasad dan perdebatan yang tidak bermutu. Sedangkan debat adalah bagi orang-orang berilmu untuk mencapai suatu konklusi benar yang terbaik.

"Saling membelakangi" Dapat dapat berarti membicarakan di belakang (ghibah yang jenis tidak diperbolehkan), acuh tak acuh (bukan karena sehari-hari ketemu pada kumpulan umat muhammad, bukan juga karena karakter introvert atau melankolis, bukan juga karena non-mahrom, bukan karena menghindari perkara yang kurang berguna, namun lebih karena permusuhan atau konflik). Adapun konflik, jika masalahnya ada pada posisi pemimpin, maka cara nabi adalah head-to-head, berbicara langsung ke yang bersangkutan bukan kode-kode maupun ditaruh ke khalayak hingga menimbulkan tanda tanya, bicara sebagaimana laki-laki seharusnya bicara (Lihat QS. Taha [20] : 47). Namun jika tidak pada kapasitas, situasi, kondisi dan toleransi yang tepat, (Lihat Arbain an-Nawawi ke 34). Namun hendaknya jika tak mengerti mengaplikasikan, agar wara' saja, jangan radikal. Misal anda tau alat musik itu terlarang, tidak lantas anda langsung membakar milik orang lain tanpa permisi. Semisal juga anda lihat game isinya ada babi-nya, lantas anda mengakali bagaimana caranya game tersebut dapat anda hapus tanpa permisi. Hal tersebut tentu saja menyebabkan Islam yang anda bawa menjadi tercemar. Karena Islam adalah agama yang beradab. Bukan sewenang-wenang. Terlabih anda belum tau, dengan anda eksekusi tanpa pertimbangan, belum tentu maslahat lebih besar dari mudharat. Orang lain yang anda hancurkan alat musiknya, bisa jadi semakin depresi, membunuh waktu dengan yang lebih buruk semisal karena sudah tak pegang alat musik, lantas banyak waktu luang, kemudian mengisinya dengan berkata-kata dosa yang besar dan banyak di sosmed. Orang yang anda hapus game-nya bisa jadi kehilangan pengalih stress-nya lantas menjadi tidak produktif dan menimbulkan efek samping lainnya. Sementara fungsi dakwah itu ada, maka janganlah sewenang-wenang. Jika tak mampu berdakwah yang baik, maka diam adalah opsi yang masuk akal. Dan masih banyak contoh lainnya.

"Janganlah sebagian kalian menjual atas jualan sebagian yang lain" Misal seseorang melihat orang lain sedang menawar barang, ia tidak memiliki hubungan apapun dengan penawar, akan tetapi barang yang dijual milik temannya, ia ingin menaikkan harga tawar untuk kepentingan temannya. Tindakan ini tidak boleh dilakukan.
Back to List